EXPRESSINDONEWS-- Di tengah hiruk-pikuk aktivitas UMKM Kampung Cina, Kota Manado, muncul satu nama yang kini menjadi simbol keberanian dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Ia adalah Ananta Prince (Rahmat Manoppo), seorang pelaku UMKM yang memilih berdiri tegak ketika banyak lainnya memilih diam.
Ananta bukan hanya berjualan di kawasan UMKM Kampung Cina, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menolak kenaikan iuran sepihak yang diberlakukan oleh pihak yang diduga sebagai pengelola ilegal. Kenaikan iuran yang mencapai Rp1,3 juta bagi pelaku usaha makanan dan minuman dinilai tidak masuk akal, tanpa dasar hukum, serta tanpa transparansi yang jelas.
Perjuangan itu bermula dari sebuah postingan curahan hati di media sosial. Dalam unggahannya, Ananta secara terbuka membeberkan kronologi yang ia alami—mulai dari kebingungannya atas besaran iuran, hingga keberaniannya mempertanyakan ke mana uang tersebut disetorkan. Namun alih-alih mendapat penjelasan, jawaban yang diterima justru menambah kecurigaan.
“Kalian tidak perlu tahu uang itu ke mana,” demikian pernyataan pihak pengelola yang diterima Ananta. Kalimat singkat itu menjadi titik balik. Sebuah jawaban yang justru menegaskan adanya persoalan serius dalam tata kelola UMKM Kampung Cina.
Keberanian Ananta mempertanyakan iuran tersebut berbuntut panjang. Ia diusir dari lokasi berjualan, sebuah konsekuensi pahit yang harus diterima karena memilih bersuara. Awalnya, langkah Ananta diiringi dukungan rekan-rekan sesama pelaku UMKM. Namun seiring waktu berjalan, satu per satu mundur. Ketakutan akan bernasib sama—terusir dari lokasi usaha—membuat Ananta akhirnya harus berjuang sendirian.
Meski demikian, Ananta tidak mundur. Ia tetap berdiri pada prinsip, bahwa pelaku UMKM berhak mendapatkan kejelasan, keadilan, dan perlindungan. Perjuangan yang tampak sunyi itu akhirnya berbuah manis.
DPRD Kota Manado melalui Komisi II turun tangan. Konflik yang mencuat di ruang publik mendorong wakil rakyat untuk bertindak cepat dan tegas. Hearing pun digelar, mempertemukan kedua belah pihak guna mengurai akar persoalan dan mencari solusi yang adil.
Fakta demi fakta pun terungkap. Dari hasil penelusuran, diketahui bahwa uang iuran yang dikumpulkan pihak pengelola ternyata digunakan untuk menggaji diri mereka sendiri. Sebuah temuan yang membenarkan kegelisahan dan kecurigaan Ananta sejak awal.
Kini, perjuangan Ananta Prince bukan sekadar soal iuran. Ia telah menjelma menjadi simbol perlawanan UMKM kecil terhadap praktik pengelolaan yang tidak transparan. Dalam kesendirian, ia memilih jujur. Dalam tekanan, ia memilih berani.
Ananta membuktikan bahwa satu suara, jika dilandasi kebenaran dan keberanian, mampu menggugah perhatian banyak pihak—bahkan hingga ke gedung dewan. Sebuah pelajaran berharga bahwa keadilan sering kali lahir dari keberanian orang-orang biasa yang menolak tunduk pada ketidakadilan.
