EXPRESSINDONEWS-- Sikap Dr. Victor Mailangkay yang memilih mengundurkan diri dari posisi Ketua DPW Partai NasDem Sulawesi Utara mendapat apresiasi dari sejumlah kalangan. Keputusan tersebut dinilai bukan sekadar langkah politik, tetapi juga memperlihatkan etika, ketenangan, serta kebesaran hati seorang politisi dalam menghadapi dinamika internal partai.
Pengamat dan akademisi Prof. Dr. Ir. Ruddy Tenda menilai, keputusan Victor menyerahkan langsung surat pengunduran dirinya kepada Ketua Umum Partai NasDem menunjukkan karakter politisi yang memiliki etika dan tetap memberikan penghormatan kepada partai yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan politiknya.
Menurut Ruddy, sikap tersebut semakin terlihat ketika Victor menyampaikan alasan pengunduran dirinya sebagai upaya menghindari terjadinya perpecahan di internal Partai NasDem Sulawesi Utara. Bahkan, Victor tetap memberikan ucapan selamat kepada Ketua DPW yang baru serta berharap NasDem Sulut dapat terus berkembang dan mencapai kemajuan.
Bagi Ruddy, hal itu merupakan gambaran jiwa besar seorang politisi yang telah memiliki pengalaman panjang dalam dunia politik.
“Dr. Victor telah menunjukkan karakter berpartai yang baik terlepas dari kekurangan yang ada,” ujar Ruddy.
Ia menambahkan, pengunduran diri Victor juga sepatutnya menjadi momentum evaluasi internal bagi Partai NasDem untuk membangun tata kelola organisasi yang lebih baik ke depan.
Pandangan senada disampaikan Prof. Drs. Ishak Pulukadang. Ia menilai sikap Victor menunjukkan pribadi yang legowo, ikhlas, rela dan lapang dada menerima kenyataan politik yang dihadapinya.
“Wah, suatu komen yang menunjukkan sikap yang legowo, yaitu sikap ikhlas, rela dan lapang dada menerima kenyataan rekan partainya yang membuatnya mengundurkan diri sebagai Ketua NasDem Sulut,” kata Ishak.
Menurutnya, sikap seperti itu justru jarang ditemukan dalam dinamika sejumlah partai politik. Sebab, konflik antar-kader tidak jarang berkembang menjadi pertentangan yang berujung pada perpecahan internal.
Namun, kata Ishak, Victor justru memilih jalan berbeda. Ia tidak menghendaki pengunduran dirinya menjadi pemicu perpecahan di antara para pendukung maupun kader Partai NasDem Sulawesi Utara. Sebaliknya, Victor berharap di bawah kepemimpinan figur penggantinya, NasDem Sulut tetap solid dan mampu melanjutkan perjuangan politik partai.
Ishak yang mengenal Victor sejak masih menjadi mahasiswa juga memberikan gambaran mengenai karakter pribadi mantan Ketua DPW NasDem Sulut tersebut.
Ia mengaku sejak masa mahasiswa telah melihat Victor sebagai sosok yang cerdas. Bahkan, Ishak pernah mengangkat Victor sebagai asisten dosen untuk mata kuliah Kewiraan serta mendorongnya untuk terjun ke dunia politik melalui Partai Golkar.
Menurut Ishak, pengalaman panjang tersebut turut membentuk karakter Victor sebagai sosok yang tenang dalam menghadapi persoalan.
“Bung Victor yang saya tahu seorang yang cerdas sejak mahasiswa. Karena itu saya pernah mengangkatnya sebagai asisten dosen mata kuliah Kewiraan serta mendorongnya sebagai politisi Golkar. Memang punya karakter yang tenang menghadapi persoalan yang dihadapinya, tidak meledak-ledak menghancurkan sesama kader partai,” ungkapnya.
Ishak menilai, sikap Victor saat menyerahkan tongkat kepemimpinan NasDem Sulut kepada figur pengganti semakin memperlihatkan kematangan dirinya dalam berpolitik.
Meski perannya sebagai Ketua DPW telah berakhir dan posisi tersebut kemudian diambil alih oleh rekan sesama kader, Victor dinilai tetap mampu menunjukkan sikap gentleman dengan menerima keadaan secara dewasa tanpa menjadikannya sebagai alasan untuk menciptakan konflik baru.
Dua pandangan akademisi tersebut pada akhirnya memperlihatkan satu benang merah: politik bukan hanya tentang mempertahankan posisi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu menjaga kehormatan, persahabatan, soliditas partai dan kepentingan yang lebih besar ketika harus meninggalkan sebuah jabatan.
Dalam dinamika politik yang sarat kepentingan, langkah Victor Mailangkay untuk mundur dengan tetap memberikan penghormatan kepada partai dan mendoakan keberlanjutan NasDem Sulut menjadi gambaran bahwa kebesaran seorang politisi terkadang justru terlihat ketika ia memilih untuk melepaskan, bukan memaksakan diri untuk bertahan. (***)






