Expressindonews -SOLO- Gelaran Piala Soeratin U17 tingkat Nasional yang berlangsung di Kota Solo kembali menghadirkan cerita menarik, khususnya dari laga antara PS Manado U17 melawan Persija Jakarta U17.
Dalam pertandingan yang digelar penuh gengsi tersebut, PS Manado harus mengakui keunggulan tim ibu kota dengan skor 3-0. Namun, hasil ini justru menorehkan catatan tersendiri, karena banyak yang memprediksi PS Manado akan kalah dengan skor telak hingga dua digit.
Sebelum laga, atmosfer sudah terbangun begitu panas. Persija Jakarta, sebagai salah satu tim elite Indonesia yang berstatus klub Liga 1, jelas lebih diunggulkan dari segala sisi. Bahkan, sejumlah suporter Persija sempat meremehkan kekuatan PS Manado dengan menyebut laga itu hanya akan menjadi "pesta gol", bahkan ada yang memprediksi PS Manado akan tumbang dengan skor 10-0. Namun, anggapan itu terbukti keliru.
Di lapangan, para pemain PS Manado menunjukkan mental baja. Mereka tetap tampil lepas dan percaya diri, meskipun berhadapan dengan tim raksasa yang secara pengalaman, fasilitas, dan kualitas pemain jauh lebih mapan. Meski kalah 3-0, PS Manado mampu memberikan perlawanan berarti, bahkan beberapa kali melakukan tekanan ke jantung pertahanan Persija. Sayangnya, keberuntungan belum berpihak, dan peluang yang tercipta belum bisa dimaksimalkan menjadi gol.
Kekalahan ini memang belum mengubur peluang PS Manado untuk lolos ke babak berikutnya. Kesempatan masih terbuka, dengan catatan PS Manado wajib meraih kemenangan pada laga selanjutnya melawan wakil Kalimantan.
Semangat juang dan ketangguhan para pemain diyakini menjadi modal penting menghadapi pertandingan hidup-mati tersebut.
Hal menarik lainnya, PS Manado datang dengan segala keterbatasan. Jika Persija diperkuat oleh jajaran staf pelatih berlisensi tinggi, PS Manado hanya dipimpin oleh pelatih dengan lisensi D Nasional. Namun hal itu tidak mengurangi daya juang tim asal Sulawesi Utara tersebut. Fakta bahwa mereka mampu menahan gempuran Persija hingga hanya kebobolan tiga gol menjadi bukti bahwa PS Manado bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata.
"Para pemain bermain seperti biasa, tidak peduli siapa lawannya. Bahkan menghadapi Persija, mereka tetap tenang dan berusaha memberikan yang terbaik," ujar salah satu pengamat pertandingan.
Kekalahan dari Persija tetap meninggalkan rasa bangga bagi masyarakat Sulawesi Utara. PS Manado, yang notabene berasal dari klub Liga 4, mampu tampil sejajar dengan klub besar seperti Persija yang berstatus Liga 1. Perjuangan ini menegaskan bahwa sepak bola bukan hanya soal nama besar, tetapi juga soal semangat, kerja keras, dan mental bertanding.
Kini, perhatian tertuju pada laga berikutnya. PS Manado harus melupakan kekalahan ini dan segera bangkit untuk menghadapi wakil Kalimantan. Peluang lolos masih terbuka lebar, dan perjuangan anak-anak muda Sulut di Piala Soeratin U17 Nasional akan terus menjadi kebanggaan tersendiri bagi daerahnya.
(Chandra Matheos)
