LATEST POST

latest

Pecinta Sepak Bola Minta Erick Tohir Mundur Jika Tidak Bisa Atasi,,Presiden Dewa United Tempuh Jalur Hukum Insiden di EPA U20

Senin, 20 April 2026

/ by Chandra


Expressindonews-- Kasus kekerasan kembali mencoreng wajah sepak bola usia muda Indonesia. Insiden yang melibatkan pemain Elite Pro Academy (EPA) U-20 menuai kecaman keras dari Presiden Dewa United, Ardian Satya Negara, yang menilai tindakan tersebut telah melenceng jauh dari nilai pembinaan dalam kompetisi usia dini.

Peristiwa ini terjadi dalam ajang Elite Pro Academy (EPA), yang sejatinya menjadi wadah pengembangan bakat, karakter, dan mental para pemain muda. Namun, alih-alih menjadi ruang pembelajaran, kompetisi tersebut justru diwarnai aksi kekerasan yang melibatkan sejumlah oknum dari tim Bhayangkara FC U-20.

Dalam pernyataannya, Ardian tidak menyembunyikan rasa kecewanya. Ia menegaskan bahwa kompetisi usia muda seharusnya menjadi tempat pembinaan yang sehat, bukan ajang yang dipenuhi tekanan berlebihan hingga berujung pada tindakan tidak sportif.

“Jujur saya sangat kecewa. Seharusnya kompetisi usia muda ini menjadi tempat pembelajaran, bukan menjadi ajang kekerasan. Klub juga seharusnya bertanggung jawab untuk mendidik moral dan adab semua pemain, bukan hanya menekan untuk sekadar menjadi juara, karena ini hanya kompetisi usia muda,” tegas Ardian.

Lebih lanjut, di Kutip dari Akun Resmi Galeri Seputar Indonesia Ardian memastikan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. Ia menegaskan akan membawa kasus ini ke ranah hukum sebagai bentuk keseriusan dalam melindungi pemain muda dari tindakan kekerasan di lapangan maupun di luar lapangan.

Nama-nama yang diduga terlibat dalam insiden tersebut antara lain Fadly Alberto, Ahmad Catur Prasetyo, Aqilah Aljundi, serta Ferdiansyah yang merupakan bagian dari tim kepelatihan. Keterlibatan oknum pelatih dalam aksi kekerasan ini menjadi sorotan serius, mengingat peran pelatih seharusnya menjadi teladan bagi para pemain muda.

“Saya akan proses secara hukum untuk semua yang melakukan kekerasan, karena bukan hanya pemain, tapi ada juga pelatih yang melakukan pemukulan,” lanjutnya.

Kondisi korban sendiri dilaporkan cukup memprihatinkan. Ardian mengungkapkan bahwa pemain yang menjadi korban saat ini masih merasakan sakit di bagian tulang belakang dan telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

“Keadaan anak masih kesakitan di tulang belakang. Posisi saat ini sedang dibawa ke rumah sakit,” tambahnya.

Insiden ini menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional, mulai dari klub, pelatih, hingga operator kompetisi. Evaluasi menyeluruh dinilai perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang, sekaligus memastikan bahwa kompetisi usia muda benar-benar menjadi fondasi pembinaan yang sehat, aman, dan berintegritas bagi generasi penerus sepak bola Indonesia.








Don't Miss
© all rights reserved
made with www.expressindonews.com