Foto: Rahman Salehe (ist)
EXPRESSINDONEWS-- Ketika sebuah nama terus-menerus diseret dalam pemberitaan negatif, publik tentu berhak bertanya. Namun pertanyaan yang kini muncul justru datang dari masyarakat yang selama ini mengenal sosok Rahman Salehe dari dekat.
Mengapa yang terus ditonjolkan hanya tudingan dan laporan, sementara jejak kepedulian serta bantuan yang pernah diberikan kepada masyarakat nyaris tidak mendapatkan ruang yang sama?
Pertanyaan itu semakin ramai diperbincangkan setelah sejumlah pemberitaan dan unggahan di media sosial kembali menyoroti Rahman Salehe, termasuk terkait laporan serta isu pemeriksaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Bagi masyarakat yang mengenalnya, persoalan tersebut tidak serta-merta mengubah pandangan mereka terhadap sosok Rahman.
Rahman dikenal sebagai anak dari keluarga sederhana yang kemudian dipercaya menjadi wakil rakyat. Prinsip hidupnya, menurut orang-orang yang mengenalnya, sederhana: kalau bisa membantu, bantu; kalau tidak mampu membantu, jangan menyusahkan orang lain.
Berbagai kegiatan sosial yang melibatkan Rahman menjadi bagian dari catatan publik. Mulai dari kegiatan sunatan massal bagi ratusan anak, pembagian puluhan ekor sapi kurban kepada masyarakat, hingga pemberangkatan jamaah umrah dari Bolaang Mongondow Timur.
Ada keluarga yang merasa terbantu. Ada anak-anak yang mendapatkan pelayanan tanpa harus membebani orang tua. Ada masyarakat yang menerima daging kurban. Ada warga yang akhirnya bisa menjalankan ibadah ke Tanah Suci.
Tetapi semua itu seakan kalah keras dengan satu-dua judul yang menyeret namanya.
Di media sosial, sejumlah warga bahkan mulai mempertanyakan pola pemberitaan tersebut.
Salah satu komentar yang beredar menyebut:
“Periksa para pejabat yang pakai APBD dan APBN. Rahman dia punya usaha. Dia tidak merugikan banyak orang dan bukan hak orang yang dia ambil.”
Komentar lainnya bahkan mempertanyakan mengapa sorotan media dianggap hanya diarahkan kepada Rahman.
“Ini hanya pemberitaan iri dan dengki kepada Rahman. Banyak yang diduga mencuri uang rakyat, kenapa tidak diekspos di media?”
Pernyataan tersebut tentu merupakan opini warga dan tidak dapat dijadikan kesimpulan hukum. Namun suara itu memperlihatkan satu hal penting:
Ada masyarakat yang masih melihat dirinya berdasarkan pengalaman langsung, bukan hanya berdasarkan potongan informasi yang beredar di media sosial.
Di sinilah publik perlu membedakan antara laporan, tudingan, pemeriksaan dan pembuktian hukum.
Jika memang terdapat laporan atau dugaan pelanggaran, tentu aparat penegak hukum memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan secara profesional. Tidak ada siapa pun yang boleh kebal terhadap hukum.
Namun sebaliknya, tidak boleh pula sebuah laporan berubah menjadi vonis sebelum proses hukum selesai.
Sebab hukum bukan tentang siapa yang paling ramai diberitakan.
Hukum bukan tentang siapa yang paling keras dituding.
Dan kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa sering sebuah nama muncul di media sosial.
Justru karena itu, jika ada dugaan persoalan kekayaan, penggunaan uang negara, ataupun dugaan pelanggaran lainnya, masyarakat meminta agar penegakan hukum dilakukan secara terbuka, objektif dan tidak tebang pilih.
Kalau memang ada pejabat yang menggunakan APBD atau APBN dan terdapat indikasi pelanggaran, masyarakat juga berhak mempertanyakan dan meminta aparat memeriksanya.
Jangan sampai muncul kesan bahwa pemberitaan hanya tajam kepada satu orang, sementara persoalan lain yang menyangkut kepentingan publik justru luput dari sorotan.
Rahman Bukan Tanpa Kritik, Tetapi Jangan Hapus Rekam Jejaknya
Rahman Salehe tentu bukan manusia sempurna. Sebagai wakil rakyat, dirinya tetap harus terbuka terhadap kritik, evaluasi dan pemeriksaan apabila memang terdapat persoalan yang harus dijelaskan.
Namun kritik harus dibangun berdasarkan fakta.
Pemeriksaan harus berdasarkan bukti.
Dan pemberitaan harus berdasarkan verifikasi.
Jangan sampai kebaikan seseorang justru dianggap sebagai sesuatu yang harus dicurigai hanya karena dirinya memiliki kemampuan untuk membantu masyarakat.
Sebab ada perbedaan besar antara kekayaan yang diperoleh secara sah dengan kekayaan yang berasal dari kejahatan.Pada akhirnya, masyarakat memiliki cara sendiri untuk menilai seorang tokoh.
Mereka mungkin tidak membaca seluruh pemberitaan.
Mereka mungkin tidak memahami seluruh persoalan hukum.
Tetapi mereka tahu siapa yang pernah datang ketika ada warga membutuhkan bantuan.
Mereka tahu siapa yang pernah berbagi.
Mereka tahu siapa yang pernah hadir dalam kegiatan sosial.
Dan mereka tahu siapa yang selama ini mereka kenal.
Itulah sebabnya, ketika nama Rahman Salehe kembali menjadi sasaran pemberitaan negatif, sebagian masyarakat justru berdiri dan memberikan dukungan.
Bukan karena mereka menganggap Rahman kebal hukum.
Tetapi karena mereka merasa mengenal Rahman lebih jauh daripada sekadar apa yang tertulis dalam sebuah judul berita.
Kini bola berada di tangan aparat penegak hukum dan media.
Jika memang ada kesalahan, ungkap secara terang.
Jika ada dugaan pelanggaran, buktikan.
Jika tidak terbukti, pulihkan nama baiknya.
Dan jika memang ingin melakukan pemberantasan korupsi, jangan berhenti pada satu nama.
Periksa siapa pun yang memang layak diperiksa.
Soroti siapa pun yang memang memiliki persoalan.
Bongkar siapa pun yang terbukti merugikan negara.
Sebab masyarakat tidak membutuhkan pemberitaan yang hanya ramai karena satu nama. (Nanang Noholo)
