LATEST POST

latest

Jika Tambang Rakyat Ditutup, Perputaran Ekonomi Kotabunan Bisa Terhenti, Pedagang : Jangan Buat Kami Menderita

Selasa, 08 September 2026

/ by Nanang

 



EXPRESSINDONEWS-- Ribuan penambang tradisional yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas pertambangan di wilayah Panang dan Benteng, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dinilai bukan sekadar bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Keberadaan mereka juga disebut memiliki dampak besar terhadap perputaran ekonomi masyarakat di sekitar wilayah pertambangan.

Hal tersebut disampaikan sejumlah pedagang pasar di Boltim. Kepada wartawan, mereka mengaku bahwa sebagian besar pembeli yang datang berbelanja saat ini merupakan masyarakat yang bekerja sebagai penambang.

Menurut mereka, aktivitas ekonomi para penambang turut menghidupkan sektor perdagangan kecil hingga kebutuhan sehari-hari masyarakat.

“Ini tentu berdampak. Kalau mereka sudah tidak bekerja, terus siapa lagi yang akan membeli? Perputaran uang di pasar pasti ikut berkurang,” ujar salah satu pedagang.

Kekhawatiran itu semakin menguat menyusul adanya isu mengenai rencana penutupan lokasi aktivitas penambangan tradisional yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Para pedagang menilai, pemerintah perlu melihat persoalan tersebut secara lebih luas. Bukan hanya dari sisi pertambangan, tetapi juga dari sisi ekonomi keluarga, perdagangan masyarakat, hingga potensi persoalan sosial yang dapat muncul ketika ribuan orang kehilangan mata pencaharian.

“Selama mereka bekerja, mereka punya penghasilan untuk keluarga. Mereka juga punya kesibukan. Ini secara tidak langsung membantu mengurangi potensi kriminalitas karena masyarakat memiliki pekerjaan,” katanya.


Di tengah wacana penertiban aktivitas tambang tradisional, muncul pula sorotan dari pedagang mengenai sejauh mana keberadaan perusahaan memberikan dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat Kotabunan.

Sejumlah pedagang mengklaim, selama perusahaan berdiri di wilayah tersebut, kebutuhan bahan pokok perusahaan tidak banyak dibelanjakan di pasar Kotabunan.

“Mereka membeli di kota, kalau tidak di Manado,” ujar salah satu pedagang.

Pernyataan tersebut menjadi pertanyaan tersendiri bagi masyarakat: jika aktivitas pertambangan tradisional dihentikan, sementara kebutuhan perusahaan justru disebut lebih banyak dibelanjakan di luar daerah, lalu seberapa besar uang yang benar-benar berputar dan dirasakan masyarakat lokal?

Bagi pedagang, penambang tradisional justru menjadi salah satu kelompok masyarakat yang secara langsung membelanjakan penghasilannya di wilayah Kotabunan.

Uang yang mereka dapatkan dari bekerja, menurut pedagang, kembali berputar di warung, pasar, kios, transportasi dan berbagai usaha masyarakat lainnya.


Di tengah polemik tersebut, muncul pula kekhawatiran masyarakat mengenai masa depan wilayah Kotabunan apabila aktivitas pertambangan tradisional sepenuhnya digantikan oleh perusahaan.

Masyarakat meminta pemerintah tidak mengambil keputusan secara sepihak dan menjadikan kepentingan rakyat sebagai pertimbangan utama.

Mereka bahkan mengingatkan pemerintah agar belajar dari berbagai daerah yang pernah mengalami persoalan serupa, ketika masyarakat lokal merasa ruang hidup dan sumber penghidupan mereka semakin terbatas setelah masuknya investasi berskala besar.

“Kami tidak mau Kotabunan menjadi seperti daerah lain. Tanah leluhur yang selama ini dipelihara dan dijaga masyarakat, jangan sampai akhirnya masyarakat sendiri justru kehilangan akses terhadap tanah tersebut,” ungkap warga.

Bagi masyarakat, persoalannya bukan semata-mata menolak investasi ataupun perusahaan. Yang dipersoalkan adalah bagaimana nasib masyarakat lokal ketika ruang ekonomi mereka harus berhadapan dengan kepentingan usaha berskala besar.

“Tangkap yang Korupsi, Jangan Hentikan Rakyat yang Berjuang”

Suara masyarakat pun semakin keras. Mereka meminta pemerintah dan aparat penegak hukum tidak salah menempatkan prioritas.

Jika memang terdapat persoalan hukum dalam aktivitas pertambangan, masyarakat meminta penegakan hukum dilakukan secara tegas dan adil, termasuk terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.

“Kalau memang ada yang korupsi, tangkap mereka. Jangan hentikan masyarakat yang sedang berjuang untuk menghidupi keluarga,” tegasnya.


Persoalan Panang dan Benteng bukan hanya tentang tambang. Di balik aktivitas ribuan penambang tradisional, ada pedagang pasar, warung kecil, transportasi, pekerja harian, hingga keluarga yang menggantungkan kebutuhan hidup dari uang yang berputar di kawasan tersebut.

Karena itu, sebelum mengambil langkah penutupan atau perubahan pengelolaan wilayah pertambangan, pemerintah dituntut memastikan terlebih dahulu: ke mana ribuan masyarakat itu akan mencari nafkah setelah sumber penghidupannya dihentikan?

Jangan sampai atas nama investasi dan penataan, rakyat yang selama ini hidup dari tanahnya sendiri justru menjadi penonton di tanah leluhurnya. (***) 

Next Story Posting Lama Beranda
Don't Miss
© all rights reserved
made with www.expressindonews.com