EXPRESSINDONEWS-- Pendidikan anak tidak sekadar berbicara tentang ruang kelas, buku dan ijazah. Di balik setiap anak yang bersekolah, ada investasi jangka panjang yang menentukan seperti apa wajah Kota Manado dalam 10, 20 hingga 30 tahun mendatang.
Karena itu, persoalan anak putus sekolah dinilai tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa. Ketika seorang anak kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depannya, tetapi juga kualitas sumber daya manusia dan arah pembangunan daerah.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Komisi IV DPRD Kota Manado, Jimmy Gosal, saat menghadiri Launching dan Sosialisasi Gema Makase (Gerakan Masyarakat Manado Kembalikan Anak Bersekolah) di Ruang Serbaguna Pemerintah Kota Manado, Kamis (1/10/2026).
Menurut Gosal, pemerintah harus melihat pendidikan sebagai sebuah investasi besar bagi daerah. Anak-anak yang saat ini duduk di bangku sekolah merupakan generasi yang nantinya akan menjadi tenaga profesional, pelaku usaha, pemimpin, maupun bagian penting dari kehidupan sosial Kota Manado.
“Anak putus sekolah ini, itulah awal mulanya muncul peks-peks. Ini berhubungan dengan tingkat kriminal yang muncul di Kota Manado akibat banyak anak putus sekolah,” ujar Gosal.
Ia menilai pencegahan harus dilakukan sebelum seorang anak benar-benar meninggalkan sekolah. Pemerintah perlu memperkuat pengawasan dan mendeteksi sejak dini anak-anak yang mulai mengalami persoalan pendidikan, baik karena faktor ekonomi, keluarga, lingkungan maupun persoalan sosial lainnya.
Bagi Gosal, mengembalikan anak ke sekolah berarti menyelamatkan investasi daerah untuk masa depan.
Program Gema Makase yang digagas Pemerintah Kota Manado melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pun mendapat dukungan DPRD Manado. Namun, dukungan tersebut diikuti dengan harapan agar program benar-benar memiliki hasil yang terukur dan menyentuh anak-anak yang membutuhkan.
“Lembaga DPRD Manado sangat mendukung setiap program Pemkot Manado sepanjang itu untuk kepentingan masyarakat Manado, lebih khusus terkait pengentasan anak putus sekolah,” tegasnya.
Gosal juga mengingatkan pentingnya koordinasi antarlembaga. Penanganan anak putus sekolah tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Pendidikan, tetapi juga berkaitan dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) serta berbagai pihak lainnya.
“Jangan sampai penganggarannya tumpang tindih,” katanya.
Ia kemudian mendorong agar pemerintah menggunakan pendekatan berbasis data. Pendataan dapat dilakukan di setiap kecamatan untuk mengetahui secara nyata jumlah anak yang tidak lagi bersekolah sekaligus mengidentifikasi penyebabnya.
Bahkan, satu wilayah dapat dijadikan percontohan penanganan sebelum pola tersebut dikembangkan ke kecamatan lainnya.
“Supaya jadi contoh untuk kecamatan lainnya,” ujarnya.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar Gema Makase tidak berhenti sebagai program atau kegiatan seremonial. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pemerintah menemukan anak yang telah keluar dari sistem pendidikan, memahami persoalan yang mereka hadapi, kemudian membuka kembali jalan agar mereka dapat bersekolah.
Sebab, investasi terbesar sebuah daerah bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga manusia yang akan mengelola pembangunan tersebut di masa depan.
Kota Manado hari ini sedang menyiapkan generasi yang akan menentukan wajah kota ini dua dekade mendatang. Anak-anak yang sekarang mendapatkan pendidikan dengan baik berpotensi menjadi kekuatan utama bagi kemajuan ekonomi, sosial dan pembangunan daerah.
Sebaliknya, ketika anak-anak kehilangan akses pendidikan, daerah berisiko kehilangan bagian dari potensi sumber daya manusianya.
Karena itu, persoalan anak putus sekolah harus ditempatkan sebagai agenda serius pembangunan Kota Manado. Pemerintah, DPRD, sekolah, keluarga dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan untuk belajar.
Sebab, menyekolahkan anak hari ini bukan sekadar memenuhi kewajiban pendidikan. Itu adalah investasi Kota Manado untuk 20 tahun ke depan. (***)
