EXPRESSINDONEWS– Dinamika politik di Kota Manado mulai menjadi perhatian publik. Dua nama yang kini ikut diperbincangkan adalah Rachman Kodu, anggota DPRD Kota Manado dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Hi. Amir Liputo, S.H., legislator DPRD Provinsi Sulawesi Utara sekaligus Ketua DPW PKS Sulut.
Keduanya disebut-sebut memiliki peluang untuk melangkah ke jenjang politik yang lebih tinggi. Rachman Kodu diisukan berpotensi maju sebagai calon anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara, sementara Amir Liputo dikabarkan masuk dalam perbincangan terkait kemungkinan maju ke DPR RI.
Meski demikian, hingga kini isu tersebut perlu dipandang sebagai dinamika politik yang berkembang. Belum ada konfirmasi resmi yang dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa keduanya telah menetapkan keputusan pencalonan pada Pemilu 2029.
Namun, munculnya kedua nama ini cukup menarik untuk dicermati. Keduanya memiliki pengalaman di dunia politik, tetapi berada pada tahapan karier legislatif yang berbeda.
Rachman Kodu merupakan kader PKS yang terpilih sebagai anggota DPRD Kota Manado periode 2024–2029 melalui daerah pemilihan Tuminting, Bunaken Darat, dan Bunaken Kepulauan.
Pada Pemilu 2024, Rachman memperoleh 2.376 suara berdasarkan daftar calon terpilih yang diberitakan DetikManado.com. Perolehan tersebut mengantarkannya menjadi salah satu wakil rakyat dari daerah pemilihan Manado bagian utara.
Dalam menjalankan tugas legislatif, Rachman tercatat berada di Komisi II DPRD Kota Manado yang membidangi perekonomian dan keuangan.
Rekam jejaknya antara lain terlihat dalam kegiatan reses pada 26 Juli 2025 di Kelurahan Mahawu, Kecamatan Tuminting. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat menyampaikan pertanyaan mengenai pelaksanaan program Koperasi Merah Putih. Rachman meminta instansi terkait memberikan penjelasan secara terperinci agar masyarakat memperoleh pemahaman yang benar mengenai program tersebut.
Ia juga pernah menyampaikan catatan kepada pemerintahan Andrei Angouw dan Richard Sualang mengenai pembangunan infrastruktur, khususnya penanganan banjir di Kelurahan Mahawu serta ketimpangan pembangunan di wilayah Manado Utara.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa isu infrastruktur dan pemerataan pembangunan menjadi bagian dari perhatian politiknya.
Dengan pengalaman sebagai legislator tingkat kota, peluang Rachman untuk melangkah ke DPRD Sulut tentu menjadi salah satu hal yang menarik untuk diamati. Apabila benar maju pada kontestasi mendatang, ia perlu memperluas jangkauan dukungan politik sekaligus menunjukkan kapasitas dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Berbeda dengan Rachman, Amir Liputo telah lebih dahulu menapaki perjalanan panjang di dunia legislatif.
Politikus yang akrab disapa Aba Amir ini memulai kiprah politiknya sebagai anggota DPRD Kota Manado pada periode 2004–2009 dan 2009–2014. Setelah itu, ia melanjutkan pengabdiannya ke DPRD Provinsi Sulawesi Utara pada periode 2014–2019, 2019–2024, dan kembali terpilih untuk periode 2024–2029.
Perjalanan tersebut menjadikan Amir salah satu figur PKS yang memiliki pengalaman lintas tingkat pemerintahan, dari legislatif kota hingga provinsi.
Pada 24 Juli 2025, Amir dipercaya oleh DPP PKS untuk memimpin DPW PKS Sulawesi Utara periode 2025–2030. Penunjukan tersebut menambah tanggung jawabnya, bukan hanya dalam menjalankan fungsi sebagai anggota dewan, tetapi juga dalam membangun organisasi dan mempersiapkan partai menghadapi kontestasi politik berikutnya.
Rekam jejak Amir juga mencakup aktivitas sosial dan keagamaan. Ia pernah terlibat dalam kepengurusan organisasi keagamaan di Manado, termasuk Majelis Ulama Indonesia dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an, serta aktif dalam kegiatan pelayanan masyarakat.
Pada September 2026, Amir turut menjadi perhatian setelah mengantarkan aspirasi buruh Sulawesi Utara ke DPR RI. Langkah itu dilakukan sebagai tindak lanjut atas aspirasi pekerja yang sebelumnya disampaikan dalam demonstrasi di DPRD Sulut, terutama mengenai perlindungan ketenagakerjaan.
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa komunikasi politik Amir tidak hanya berlangsung di tingkat daerah, tetapi juga menjangkau lembaga legislatif nasional.
Karena itu, isu mengenai kemungkinan dirinya maju ke DPR RI menjadi menarik untuk diperbincangkan. Meski demikian, pengalaman panjang sebagai legislator dan posisi strategis di partai belum dengan sendirinya memastikan pencalonan ataupun peluang memperoleh kursi di Senayan.
Apabila isu yang berkembang tersebut benar-benar mengarah pada pencalonan, Rachman Kodu dan Amir Liputo akan menghadapi tantangan politik yang berbeda.
Rachman perlu membangun rekam jejak yang semakin kuat di tingkat kota sekaligus memperluas basis dukungan apabila hendak bertarung di tingkat provinsi.
Sementara Amir memiliki modal pengalaman legislatif yang lebih panjang serta tanggung jawab kepemimpinan partai di tingkat provinsi. Jika maju ke DPR RI, tantangannya adalah membangun dukungan yang memadai dalam kontestasi dengan cakupan pemilih yang lebih luas.
Keduanya juga perlu memperhitungkan strategi partai, komposisi calon, kekuatan basis pemilih, dan dinamika politik menjelang Pemilu 2029.
Pada akhirnya, wacana pencalonan tidak cukup hanya diukur dari popularitas atau lamanya seseorang berkiprah dalam politik. Masyarakat tentu akan menilai apa yang telah dikerjakan, seberapa konsisten aspirasi rakyat diperjuangkan, serta apa yang ditawarkan untuk menjawab persoalan daerah.
Kini, perhatian publik tertuju pada langkah berikutnya. Apakah Rachman Kodu benar-benar akan mencoba peruntungan di DPRD Sulut? Dan apakah Amir Liputo akan memperluas pengabdiannya ke DPR RI?
Jawabannya masih menunggu perkembangan politik dan pernyataan resmi dari pihak-pihak terkait. Yang pasti, perjalanan keduanya menjadi bagian dari dinamika politik Manado dan Sulawesi Utara yang patut dicermati menjelang Pemilu 2029. (***)






